Kriteria Memilih Jodoh


Copy Paste Dari :
http://www.muhibbin-noor.com/?op=informasi&sub=2&mode=detail&id=96&page=1/

Salah satu hal penting dalam hidup ini ialah berumah tangga, karena disamping dalam rangka mendapatkan keturunan juga dimaksudkan untuk dapat hidup secara damai, tenang, tentram dan tentu saja halal. Dan salah satu hal yang sangat penting dalam membentuk rumah tangga itu ialah menentukan siapa calon pendampingnya. Banyak criteria yang ditentukan oleh masing-masing orang, dan semua itu sah-sah saja.

Cuma bagi yang kriterianya terlalu ideal dan tinggi, barangkali akan mendapatkan kesulitan, namun bagi orang yang kriterianya terlalu sederhana juga ada kemungkinan tidak akan awet. Karena itu dalam masalah ini, seseorang harus cermat dan bilamana perlu setelah ketemu criteria tersebut, terlebih dahulu diharapkan meminta petunjuk Allah melalui shalat istikharah, sebelum menentukannya.

Memang saya tadi mengatakan bahwa untuk urusan memilih jodoh dan menentukan kriterianya itu sepenuhnya tergantung kepada yang akan menjalaninya, namun tentunya sebagai seorang muslim kita harus memperhatikan rambu-rambu yang ditentukan oleh syari`at agama. Nah, dalam persoalan ini, ternyata banyak diantara umat Islam yang salah dalam memahami hadis Nabi Muhammad SAW, yang menjelaskan tentang hal ini. Bahkan kesalahan tersebut tidak hanya dilakukan oleh umat yang awam, melainkan juga dilakukan oleh para da’i dan muballigh kita.

Hadis Nabi yang dimaksudkan di sini ialah yang berbunyi ” Tunkahu al-mar`atu li arbain, limaliha, wa lijamaliha, wa lihasabiha, wa lidiniha, fadzfar bi dzati al-din taribat yadaka”.

Hadis ini sering dipahami oleh sebagian masyarakat Islam, termasuk para tokohnya, sebagai criteria memilih jodoh menurut Nabi Muhammad SAW. Artinya menurut mereka bahwa Nabi memberikan criteria memilih jodoh dengan empat hal, yakni pertama kaya, kedua cantik atau tampan, ketiga dari keturunannya, dan keempat agama dan akhlaknya. Dan inilah yang sampai saat ini masih diyakini oleh umat Islam.

Saya juga sempat terkejut dengan para mahasiswa ketika mengkaji ilmu hadis saat hadis tersebut dibuat contoh dan kemudian diartikan dan dipahami sebagaimana orang awam memahminya. Ketika menyimpulkan hadis tersebut juga sama persis dengan kesimpulan orang awam. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, karena ternyata masih banyak orang yang belum tahu bagaimana seharusnya memahami hadis. Memahami hadis tidak cukup hanya berbekal bahasa Arab saja, memahami hadis diperlukan seperangkat ilmu yang akan mendukung pemahaman kita, seperti ilmu Ma`ani al hadis, ilmu Gharib al-hadis, ilmu al-Nasikh wa al-mansukh, ilmu Asbab al-wurud, dan lainnya.

Pemahaman terhadap hadis tersebut sesungguhnya tidak terlalu sulit, tetapi mengapa banyak orang bisa salah, ini tentunya disebabkan kurang cermat dalam memahmi struktur kalimat dalam hadis tersebut. Kenapa kelamat afirmatif atau kalimat berita yang diucapkan Nabi dalam bahasa Arab kok bisa diartinya sebagai kalimat perintah atau amar. Ini kan dari aspek bahasa saja sudah menyalahi aturan.

Disamping itu, kalau arti dan maksud hadis tersebut sebagaimana dipahami orang awam, tentu akan ada akibat dan problem yang cukup serius.

Problem yang saya maksudkan ialah bagaimana mungkin nabi Muhammad SAW, sebagai nabinya orang banyak, dan bahkan para pengikut beliau yang pertamakali justru terdiri dari mereka yang lemah, kemudian Nabi sendiri menentukan criteria memilih jodoh sebagaimana dimaksudkan orang awam tersebut, yakni criteria kaya. Tentu sangat tidak mungkin nabi justru tidak mempertimbangkan mayoritas pengikutnya pada saat itu dalam hal criteria. Bahkan bisa-bisa kalau demikian keadaannya, Nabi akan dicap sebagai nabi yang tidak tahu diri, dan mungkin malah dianggap nabi yang tidak pantas sebagai nabi dan pemimpin umat.

Menurut saya ini persoalan serius, dan karena itu saya menyempatkan diri untuk memberikan penjelasan kepada umat dan juga kepada para mahasiswa yang sedang belajar hadis dengan maksud agar persoalan ini menjadi gamblang dan sekaligus ke depan tidak akan ada lagi pemahaman hadis yang sembrono. Kita tidak mungkin rela kalau nabi Muhammad dianggap sebagai nabi yang tidak tahu diri, tidak membela umatnya, dan bahkan sebagai nabi yang tidak pantas, sama sekali tidak. Nabi adalah seorang nabi yang sangat bijaksana, melindungi umatnya, bahkan sangat cinta kepada mereka melebihi terdap dirinya sendiri. Beliau selalu mendoakan umanya, bahkan ketika beliau akan wafat menghadap Tuhan, yang diingat justru umatnya, bagaimana nasibnya sepeninggal beliau dan lain sebagainya. Nabi merupakan orang yang sangat santun dan lemah lembut terhadap siapapun,termasuk kepada umatnya. Banyak riwayat yang menceritakan sepak terjang beliau yang pada kesimpulannya ialah bahwa beliau merupakan Nabi yang luar biasa, bahkan dia dimasukkan sebagai tokoh nomer wahid di atas dunia ini.

Sekali lagi ditinjau dari aspek sumber hadis tersebut, dapat dipastikan bahwa maksud hadis sebagimana yang disebutkan di atas bukanlah seperti yang dipahami oleh orang awam tersebut. Dan maksud sesungguhnya ialah bahwa Nabi Muhammad SAW, itu memberikan informasi bahwa biasanya di Arab pada waktu itu, orang menikah itu ada yang mempertimbangkan hartanya, ada pula yang karena kecantikan, ada pula yang karena factor keturunan, dan ada pula yang mempertimbangkan karena agamanya.

Artinya bahwa ada orang yang menikah itu semata-mata memang karena harta, bukan karena yang lain, sehingga paras muka dan performen tidak menjadi pertimbangan. Ada pula yang hanya mempertimbangkan kecantikan saja meskipun dari aspek harta mungkin termasuk orang miskin. Ada juga yang mempertimbangkan aspek keturunan saja, meskipun kurang cantik atau bahkan juga tidak kaya. Demikian juga ada yang mempertimbangkan dari aspek agama, meskipun ketiga aspek lainnya yang dipertimbangkan orang lain tidak ada pada diri orang yang dipertimbangkan agamanya tersebut.

Informasi Nabi tersebut dalam rangka mengawali keinginan Nabi untuk menganjurkan umatnya agar dalam memilih jodoh untuk berkeluarga itu mempertimbangkan aspek agama, bukan mengikuti kecenderungan kebanyakan orang pada saat itu, karena inilah yang akan membawa keberuntungan, ketenangan dan kebahagiaan.

Dalam hadis tersebut sangat jelas diungkapkan bahwa perintah Nabi itu hanya pada aspek agama saja, yakni pernyatan beliau : fadzfar bi dzati al-din taribat yadaka. yang dapat diartikan maka dapatkan dan pilihlah calon jodohmu itu dari wanita yang beragama, semoga engkau akan beruntung. Sedangkan pernyataan Nabi sebelum itu sama sekali tidak ada kata perintah, dan hanya memberikan informasi saja.

Pernyataan Nabi tentang kriteria memilih jodoh sebagaimana disebutkan dalam hadis tersebut sesungguhnya hanya satu ialah beragama.

Dan ini sangat pantas dan sesuai dengan posisi beliau sebagai Nabi dan pemimpin umat. Dengan demikian, Nabi tidak diskriminatif, dan bahkan sangat tampak kearifan dan keadilannya bagi umat. Wajah, harta, keturunan, itu bukan hal yang menentukan dalam persoalan ini, meskipun boleh-boleh saja kita mempertimbangkannya, tetapi sebagai nabi, tentunya beliau tidak mungkin memerintahkan atau menganjurkan umatnya untuk tidak mempertimbangkan mereka yang miskin dan kebetulan tidak dikaruniai wajah atau paras yang cantik.

Saat ini zaman telah berubah, termasuk di Arab sendiri. Ada kemungkinan bagi masyarakat Arab saat ini barangkali yang menjadi pertimbangan memilih jodoh tidak hanya diseputar empat hal tersebut. Boleh jadi ada pertimbangan lain, misalnya terpelajar dan telah lulus S1, atau tentang tinggi badan ataupun lainnya. Demikian juga bagi masyarakat di dunia tentu mempunyai kriteria yang berbeda sesuai dengan trend yang ada. Semua itu sah-sah saja, dan tidak ada yang bisa melarang.

Persoalannya ialah terletak pada pemahaman hadis yang salah tersebut, karena pemahaman yang salah tersebut akan dapat menimbulkan problem serius, yakni dapat salah paham terhadap sumber hadis itu sendiri, yakni nabi Muhammad SAW.

Karena itu sekali lagi, saya mengajak seluruh umat untuk mempelajari ilmu hadis, agar ketika kita memahaminya tidak keliru yang justru akan merugikan kita dan umat Islam secara keseluruhan. Dengan kata lain saya menganjurkan bagi mereka yang belum memahami ilmu hadis jangan berani-berani memahaminya sendiri, tetapi mintalah kepada tokoh yang dianggap mampu untuk menjelaskan atau bacalah buku-buku yang menjelaskan hal tersebut. Insya Allah kalau kita mau berusaha, Tuhan akan memberikan jalan bagi kita, dan kita bisa berharap bahwa Allah SWT akan senantiasa memberikan pencerahan kepada kita dan umat Islam pada umumnya. amin


For more information check this link,…

About bolin_maricoa

My nick name is BoLiN.......this name was given by my Father.......and it's has a meaning on it.........a prayer actually.........B=baik; O=orangnya; L=luhur; I=ilmu; N=nya........ amin ya ALLAH ^_^ Hmmmmmmm........... About my personality.........??? Let's find out by your self..... ^_^
Aside | This entry was posted in ShaRe abOuT soMe IsLamIc IssuE. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s